Sugarless Tea

A Tethered Mind

Ditolak

Hampir dua bulan yang lalu setengah juta siswa dibuat galau (sekaligus sensitif dan rajin ibadah) perihal kelanjutan hidupnya. Hidup enggan, mati pun kok masih pengen kepo sama pacarnya gebetan (uhuk). Tangan sudah siap mengganti status dari pelajar ke mahasiswa; pengennya sih perguruan yang warna almamaternya kuning atau biru tua. Yang persiapan masuknya dilakukan sejak setahun sebelum, diharapkan orangtua, dan punya presentase masuk satu banding (minimal) sepuluh orang.

Minggu-minggu lalu hidup rasanya bergantung antara huruf-huruf yang menyusun kata ‘lulus’ dan ‘gagal’. Gue bisa yakin dengan hal ini, karena waktu tidur mimpi cuma ada dua macam: senang keterima dan sedih karena ditolak. Mirip-mirip digantungin gitu pokoknya. Bedanya ini perkara harga diri, cyin.

Mungkin yang mendapatkan kategori pertama rasanya sama seperti dilamar oleh aktor Korea yang datang menunggang kuda putih lengkap dengan mahkota berlian. Atau dikasih tiket makan pasta seumur hidup. Gue sendiri enggak yakin, karena gue enggak masuk kategori ‘lulus’ dari pengumuman kemaren.

Uang untuk traktir teman-teman sudah ditabung, niat untuk mengunjungi bapak ibu guru di sekolah sudah bulat, tisu untuk sesi nangis terharu sudah dibeli, tapi semesta berkata lain. Katanya, duitnya ditabung buat beli tiket konser SNSD jajan sendiri aja.

Yup, niat gue untuk masuk ke salah satu fakultas desain di universitas di Bandung tertampar oleh tulisan ‘MAAF’ merah besar di laman pengumuman. Cinta gue ditolak.

Aduh, mak.

***

Di tengah-tengah pesta dalam timeline gue yang notabene kebanyakan anak-anak berotak encer dari mantan SMA negeri yang pernah menjadi tempat gue belajar ~sebentar~, gue mengunci pintu kamar dan nangis seheboh-hebohnya. Semenit, lima menit, sepuluh menit– gue mengestimasikan tangisan ini bisa tahan dua minggu.

Muka gue mau ditaro dimana? Gimana dengan harapan orang-orang di sekitar gue? Gimana dengan pengorbanan dan kerja keras gue selama ini?

hard-work-wont-betrayTapi dua jam kemudian, air mata gue mengering bak es teh manis waktu buka puasa. Kandas. Tiba-tiba, ada pemikiran jenius masuk ke otak. Pemikirannya singkat dan bisa terdengar ignoran: “yaudahlah, ya.”

***

Mungkin lo pernah denger tentang perkataan yang bilang kalau “usaha keras tidak mungkin mengkhianati”. Bener, kan?

Tapi, terlepas dari pendirian bahwa ‘kita harus selalu rendah hati’ dan ‘tidak boleh cepat puas’, gue yakin gue sudah melakukan apa yang bisa gue lakukan.

Gue enggak bodoh dan sudah berusaha mungkin sama dengan teman-teman yang keterima. Jadi, gue yakin bukan dikhianati oleh ini.

Tadinya sesi mewek gue itu mau dilanjutin ke sesi ‘menyalahkan diri sendiri’, tapi terhentikan oleh hal-hal lebih baik seperti nonton Running Man. Melakukan ini enggak akan merubah kata-kata ‘gagal’ jadi ‘lulus’. Andai pun diulang dan berusaha lebih keras, belom tentu keterima juga nantinya.

Kalau usaha enggak mengkhianati lo, yang akan mengkhianati lo adalah nasib.

Kok sotoy banget sama rencana Tuhan, mana tau kita mana yang sebenarnya lebih baik untuk masing-masing. Gue sudah berusaha, tapi nasib bilang gue dan jas almamater itu engga jodoh.

…Tetep aje universitas yang itu lebih keren ye? Sekarepmu.

Tapi gak mengkhianati juga sih. Semesta menutup jalan yang ini, gue cuma disuruh nyari jalan yang lain. Mungkin dibalik jalan yang ketutup itu, jalannya kecil. Gue enggak muat masuk situ, gitu.

Ditulis oleh Stella, (baru jadi) mahasiswa, (masih) 17 tahun, lagi mau pindah ke kos-kosan.

2 Comments

  1. Semangat, Stella! Good luck ke depannya :D

  2. do something to express not to impress.

    selalu always bangga sama lo, stel. :D

Leave a Reply

© 2014 Sugarless Tea

Theme by Anders NorenUp ↑