“Kita harus putus.”
Mungkin kita tidak pernah jatuh cinta. Mungkin kau dan aku hanya sudah terlalu lama bersama, lalu terperangkap di antara batas bernama kebiasaan dan perasaan. Mungkin jemarimu sudah terlalu lama melingkar di pergelangan tanganku, lalu ketika kau tidak ada, lenganku menjadi terlalu ringan dan hampa.
Sudah berapa lama aku bangun kepada suaramu, dan tidur di bawah bantal yang sudah menjadi bantalmu? Mungkin kita tidak pernah saling suka. Namun saat kau tidak ada, segalanya menjadi begitu sulit dan mendadak menjalani hari jadi menyakitkan, kan?
“Kenapa?”
Tapi bukankah begitu adanya? Dulu sebelum kita bertemu aku pun terbangun, tanpa tahu apa-apa tentang eksistensimu. Aku berjalan tanpa mengaitkankan jemariku padamu, dan jatuh tertidur tanpa peduli sudahkah kamu makan, atau apakah kamu ada. Dan aku tidak apa-apa.
Lalu waktu itu aku terjungkal di tangga, karena sibuk bertukar pesan denganmu, tentunya, dan harus dibalut perban dan jalan menggunakan tongkat karenanya. Minggu pertama jalan ke kamar mandi adalah hal sulit, tapi selanjutnya aku bersumpah aku bisa koprol dengannya jika tidak dilarang suster.
“Aku tidak pernah cinta padamu.”
Kau tentu menangis. Tapi aku juga begitu, dua hari setelah aku mendarat muka duluan di lantai. Jangan khawatir karena semua orang akan mengerti. Dan seperti luka, semuanya akan mengering lalu kau akan merasa lebih baik. Dan seperti itu juga, waktu akan memulihkanmu.
Kita tidak pernah jatuh cinta. Mungkin ketika kita mendeklarasikannya dengan sepasang cincin serupa seperti anak kecil, garis antara kebiasaan dan perasaan menjadi begitu buram untuk dilihat. Kita hampir jatuh ke dalam jurang itu, dan kita harus saling melepas untuk dapat berdiri sendiri.
Kita tidak pernah jatuh cinta, kita hanya begitu terbiasa. Dan seperti luka, seperti perasaan, seperti aku, seperti kamu, waktu akan memulihkan kita.
Gambar diambil dari sini.






Bagaimana seseorang bisa menyimpulkan bahwa “kita tidak pernah jatuh cinta”?
Karena dia percaya kalau dia bukan jatuh cinta, tapi terlalu terbiasa bersama-sama, kakakkkk