Kalau periode satu tahun adalah suatu balapan, mungkin sudah bisa dibuktikan kalau Januari masuk ke urutan dua belas tanpa liat keadaan sebelas bulan lainnya. Bahkan gue duga dia udah out duluan kalo ini adalah Formula 1, dilindes bulan lain sampe gepeng.

Kalau satu tahun adalah satwa, gue pengen nobatin Januari jadi kukang. Karena siput pun, walau pun lebih terkenal ‘jangan jalan kaya siput’, kalah lambat sama binatang ini. Ini baru dua puluh tiga hari setelah kita ganti kalender? Bukan dua puluh tahun?

Katanya sih, kalo kita lagi menunggu sesuatu, semuanya terasa lama. Dan waktu lagi menikmati sesuatu, semuanya terasa cepat. Gue enggak bisa mengamini teori itu lebih mantep lagi.

Kata ‘waktu’ jadi sensitif untuk gue sekarang berhubung gue sedang dilema gara-gara hal tersebut, dan dilema ini sudah gue bahas di berjuta-juta (hiperbola, seratus aja belom) tulisan sebelum ini dan gue masih enggak bisa mikir apa-apa selain urusan ngeselin ini. Gagal move on akut.

bosan

Kurangnya urat ‘bosen’ gue juga harusnya sudah akut. Rekor enggak keluar rumah gue adalah tiga minggu penuh dan mungkin bisa lebih, karena waktu akhirnya gue keluar rumah, itu bukan keinginan gue. Gue punya banyak jurus: main Sims, belajar bahasa pacal-pacal gue, tidur, nonton pilem dari HDD, nulis, gambar, ngecat, baca buku… Istilahnya, gue ‘anteng’.

Kemudian datanglah dilema mengesalkan yang berhubungan dengan waktu ini, dan tiba-tiba saja gue bosan. Tiba-tiba urat ‘bosen’ gue ngamuk-ngamuk minta diurusin. Padahal biasanya kertas bekas dan spidol pun bisa bikin gue duduk diem.

Kalender bilang ini tanggal dua puluh tiga, dan gue terserang bosan yang amat sangat.

Kali ini, semua paragraf berawalan dengan huruf ‘K’. Ada yang sadar?


One thought on “Dua Puluh Tiga

Leave a Reply