Jadi ceritanya, tanggal 22 April kemaren si @aisyhMhrs ulang tahun. Kalau merhatiin, Aisyah ini adalah satu dari dua orang yang sering gue mention di Twitter. Iya, temen gue segitu doang. Dia adalah seseorang yang bakal bela-belain dari malem-malem Ciputat ke Jakarta Pusat cuma demi jenguk gue sakit, naik motor dari Depok buat bikin kejutan buat gue, sekaligus yang paling mukanya mirip sama gue.

Kemaren gue juga udah nyeplokin telor di rumahnya (dan beresin bekasnya). Sebagai pembuat gue merasa kalo kado ini idenya jenius, bro. Jarang jarang nih gue memuji diri sendiri…


[Disclaimer: this post is written in English, contains rare ingredients (photos of me), imperfect balance (I haven't learned English for awhile) and some substances potentially causing headache (me reflects my year-long doings). You have been warned.]

So, where did I go? Why don’t someone who loves momentum like me blog like crazy about her turning a year older by talking about the non-existent life lessons? Why the hell you did not see me fighting for my 100th post to meet my birth date? Why hello, I’m just done eating everything for my seventeenth birthday and got diarrhea as the karma. A huge, disgusting diarrhea.


Manusia itu sangat bisa ditebak, kawan. Dari sederet kalimat lo bisa langsung mengetahui nasib yang akan menimpa lo. Lebih tepatnya, nasib gue di ulang tahun (11 April. Inga! Inga! Ting!) ke tujuh belas nanti. Menjadi penting soalnya… Gue pengen punya ka-te-pe.

Ulang tahun gak usah dibikin pesta gede = dewasa. Ulang tahun itu kan tambah tua = udah tua. Ulang tahun? Taun depan juga ketemu lagi = pengen dibilang lucu. Ulang tahun itu enggak perlu dirayain = tanda-tanda enggak dikasih kado.


Di penghujung periode menganggur ini, gue memutuskan untuk melakukan sesuatu yang produktip berhubung dari kemaren ambisi gue cuma menyelesaikan stok film di HDD. Dalam rangka mup on dari segala kemalasan jahanam ini, gue menyelam sambil minum air dan makan nasi padang: menyemangati diri sendiri, bikin kartu pos, belajar tipografi, dan ngeksis. Syips.

Semua kartu pos di bawah dibikin dengan tangan dan cat air enam rebu perak, berisi penyemangat mup on dari berbagai macam lirik. Jikalau ada yang tertarik, gue juga menyisipkan sembilan lagunya untuk diunduh. Untuk menjawab pertanyaan dari judul posting ini, coba dengarkan playlist versi gue agar segera mup on:


Shall be Thankful

Whatever I’m doubting becomes invalid as God reveals what lies within the dark sheet of insecurity in me and who knows what else. It’s like He frowns upon me, taps me on the back, and mutters a: “Why worry?” to which I’m left with nothing but a great despair and embarrassment of my so-called self esteem.